
Apa yang dilakukan Infomedia pada layanan BPO digital
PT Infomedia Nusantara memperkuat layanan BPO digital berbasis AI dengan kecerdasan buatan dan otomasi cerdas. Menurut Demokratis pada 2 November 2026, strategi ini ditujukan untuk membantu perusahaan mitra mengoptimalkan proses kerja agar sumber daya internal dapat lebih fokus pada bisnis inti.
BPO adalah layanan ketika sebagian proses operasional perusahaan dikelola oleh penyedia pihak ketiga. Cakupannya dapat berupa pengelolaan interaksi pelanggan, dokumen, administrasi, proses penagihan, hingga dukungan layanan bersama. Dalam konteks digital BPO, proses tersebut didukung sistem, data, otomasi, dan tenaga operasional yang menjalankan serta mengawasi layanan.
Pendekatan Infomedia tidak dimulai dari pemilihan tools. Menurut ChatNews.id, perusahaan terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan, tantangan operasional, dan peluang bisnis setiap mitra. Sesudahnya, solusi dirancang dengan menggabungkan teknologi, otomasi, sumber daya manusia, serta layanan operasional terkelola.
Urutan itu layak diperhatikan. Menurut Medcom.id, tantangan yang lebih besar adalah menerapkan AI ke alur kerja sehari-hari agar perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengendalikan biaya layanan, dan menjaga kualitas interaksi dengan pelanggan. Data ganda, aturan yang tidak terdokumentasi, atau penanggung jawab yang tidak jelas dapat tetap menyulitkan pengendalian proses meski AI telah digunakan.
Demokratis juga melaporkan bahwa Infomedia menerima penghargaan Indonesian Company of the Year 2026 dari Frost & Sullivan untuk industri digital BPO. Pengakuan tersebut dikaitkan dengan pengembangan layanan berbasis AI, efisiensi operasional, dan orientasi terhadap kebutuhan pelanggan.
AI, otomasi, dan peran manusia dalam workflow BPO
Otomasi, AI, dan AI agent tidak memiliki fungsi yang sama. Otomasi menjalankan langkah berdasarkan pemicu dan aturan yang telah ditentukan. AI membantu membaca, mengklasifikasikan, merangkum, atau menghasilkan informasi dari data. AI agent dapat menjalankan rangkaian langkah dengan konteks dan akses ke tools, tetapi tetap memerlukan batas tindakan serta pengawasan yang dirancang dengan jelas.
Perbedaan ini menentukan tingkat risiko. Workflow formulir masuk lalu membuat tiket di sistem layanan biasanya dapat ditangani otomasi aturan. Bila isi formulir perlu dibaca untuk menentukan kategori permintaan, AI dapat memberi klasifikasi awal. Jika sistem harus menelusuri basis pengetahuan, menyiapkan jawaban, memperbarui beberapa sistem, lalu menentukan tindak lanjut, organisasi perlu menetapkan batas wewenang sistem tersebut secara lebih ketat.
Sebagai ilustrasi hipotetis, sebuah perusahaan menerima keluhan pelanggan melalui email dan chat. Pesan masuk dibuat menjadi tiket secara otomatis. AI memberi label topik seperti tagihan, gangguan layanan, atau perubahan data. Tiket terkait keluhan sensitif, permintaan penghapusan data, atau perubahan kontrak tidak boleh ditutup otomatis. Petugas manusia memeriksa konteks, menyetujui respons, lalu mencatat keputusan akhir.
Menurut Medcom.id, Infomedia mengembangkan penerapan otomasi cerdas dan agentic AI dengan menggabungkan kemampuan teknologi dan keahlian manusia. Tim dapat menilai proses melalui waktu penyelesaian tiket, akurasi klasifikasi awal, jumlah kasus yang harus dieskalasi, kesalahan pencatatan, serta keluhan pelanggan setelah respons diberikan. Indikator dipilih berdasarkan masalah awal, bukan karena tersedia di dashboard.
Mengapa pemetaan proses menjadi pusat strategi BPO digital
Pemetaan proses menjawab pertanyaan yang sering terlewat saat AI dibahas: pekerjaan mana yang sebenarnya ingin diperbaiki? Menurut Demokratis, Infomedia memadukan teknologi, otomasi, keahlian manusia, dan operasional disiplin untuk mendukung perubahan proses bisnis. Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa AI hanyalah satu bagian dari desain layanan.
Mulailah dengan satu proses berulang yang punya keluhan operasional nyata. Catat pemicu awal, orang atau sistem yang menerima pekerjaan, data yang dipakai, keputusan yang dibuat, hasil akhir, serta kondisi pengecualian. Peta sederhana ini dapat memperlihatkan apakah hambatan utama berasal dari input data, antrean persetujuan, pencatatan ulang, atau perpindahan informasi antarsistem.
Andaikan tim penjualan menerima lead dari formulir digital. Proses manual dapat berupa admin mengecek kelengkapan data, menginput ulang ke CRM, meneruskan informasi kepada sales, lalu mengirim respons awal. Workflow yang diperbaiki dapat memvalidasi data formulir, memakai AI untuk mengelompokkan kebutuhan awal, membuat catatan di CRM, dan mengirim notifikasi ke sales yang sesuai.
Namun, AI tidak seharusnya diberi kewenangan membuat penawaran khusus, mengubah data pelanggan, atau menghapus catatan tanpa persetujuan. Perusahaan perlu mendefinisikan tindakan yang boleh otomatis, tindakan yang harus menunggu approval, pemilik proses, jalur eskalasi, serta catatan audit yang wajib disimpan.
Dampak bagi kualitas layanan dan tata kelola
Menurut ChatNews.id, solusi Infomedia diarahkan pada percepatan proses kerja, pengendalian biaya layanan, peningkatan produktivitas, penguatan tata kelola, dan perbaikan pengalaman pelanggan. Target tersebut tidak otomatis terjadi setelah AI dipasang. Hasilnya bergantung pada kualitas data, aturan kerja, integrasi sistem, dan prosedur ketika sistem memberikan hasil yang salah atau tidak meyakinkan.
Dalam layanan pelanggan, respons rutin dapat lebih konsisten bila basis pengetahuan diperbarui dan kategori tiket didefinisikan dengan baik. Sebaliknya, respons yang terdengar lancar tetapi memakai informasi usang tetap dapat merusak kepercayaan pelanggan. Karena itu, pemilik basis pengetahuan harus jelas, perubahan kebijakan perlu memiliki versi, dan jawaban untuk kasus khusus perlu dapat dialihkan ke petugas.
Pengelolaan akses juga tidak boleh menjadi urusan terakhir. Tentukan data apa yang dapat dibaca sistem, siapa yang boleh mengubah workflow, siapa yang menyetujui akses, serta berapa lama catatan operasional disimpan. Untuk proses yang menyangkut data pelanggan atau keputusan berdampak tinggi, tinjauan manusia merupakan kontrol kerja, bukan hambatan yang harus dihilangkan.
Langkah yang dapat dilakukan pemilik proses bisnis
Berita tentang Infomedia memberi pelajaran praktis bagi pemilik proses bisnis: nilai AI automation datang dari workflow yang lebih jelas dan dapat diawasi. Jangan memulai proyek dari daftar platform atau fitur. Pilih satu alur dengan volume berulang, masalah yang dapat dijelaskan, dan risiko yang masih bisa dikendalikan dalam uji coba terbatas.
Buat daftar tiga kolom sebelum membangun workflow. Kolom pertama berisi langkah yang dapat dijalankan dengan aturan tetap. Kolom kedua berisi pekerjaan yang dapat dibantu AI, misalnya klasifikasi atau peringkasan. Kolom ketiga berisi keputusan yang wajib diperiksa manusia. Setelah itu, uji satu skenario pengecualian, seperti data tidak lengkap atau permintaan pelanggan yang tidak sesuai kategori.
Langkah berikutnya, ambil satu proses yang paling sering memicu antrean atau input ulang minggu ini. Petakan alurnya dalam satu halaman, tandai titik yang membutuhkan keputusan manusia, lalu tetapkan ukuran keberhasilan sebelum memilih teknologi. Dari sana, tim dapat menentukan apakah masalahnya perlu otomasi sederhana, bantuan AI, atau perbaikan proses manual lebih dulu.
Frequently asked questions
Apa yang dimaksud BPO digital berbasis AI?
BPO digital berbasis AI adalah layanan alih daya proses bisnis yang memakai sistem digital, otomasi, dan AI untuk mendukung pekerjaan operasional. AI dapat membantu pekerjaan seperti klasifikasi atau peringkasan, sedangkan kontrol manusia tetap dibutuhkan untuk keputusan berisiko.
Apakah otomasi sama dengan AI?
Tidak. Otomasi menjalankan aturan dan langkah yang telah ditentukan, seperti membuat tiket dari formulir masuk. AI membantu memahami isi data, misalnya mengelompokkan topik keluhan pelanggan.
Mengapa pemetaan proses harus dilakukan sebelum implementasi AI?
Pemetaan proses membantu tim menemukan sumber hambatan, data yang diperlukan, pengecualian, dan titik keputusan manusia. Tanpa peta ini, AI dapat mempercepat alur kerja yang sebenarnya masih memiliki masalah dasar.
Proses BPO apa yang cocok diuji lebih dulu?
Pilih pekerjaan berulang dengan aturan relatif jelas, seperti pencatatan permintaan, klasifikasi tiket, validasi kelengkapan data, atau notifikasi internal. Mulai dari ruang lingkup terbatas agar kesalahan dan kebutuhan eskalasi dapat dipelajari lebih dulu.
Apakah setiap workflow BPO memerlukan AI agent?
Tidak. Banyak workflow cukup memakai otomasi aturan atau AI untuk klasifikasi dan peringkasan. AI agent lebih relevan untuk rangkaian tugas multilangkah yang membutuhkan konteks, penggunaan tools, dan batas kewenangan yang terkontrol.


